Laporan
Praktikum Matakuliah
INDONESIA
THERAVADA BUDDHIST CENTRE
OUR
SERVICES ARE FOR ALL
Jalan Cemara
Bulevard Utara No 1 Cemara Asri-Sumut
Diajukan Oleh:
1.
Aji Aksal
|
: 311102938
|
2.
Nazari Mahda
|
: 311102930
|
3.
Zulfian
|
: 311102957
|
4.
Agustiana
5.
Farnila
6.
Fitri
7.
Irma Suryani
|
: 311102948
: 311102937
: 311102931
: 311102949
|
8.
Maghfirah Nuryanti
9.
Marlina
10.
Melisa Meyna
|
: 311102966
: 311102937
: 311102954
|
11.
Nana Efriani
12.
Nurul Ilmi
|
: 311102951
: 311102934 |
13.
Rosi Manila
14.
Salmiaton
|
: 311102946
: 3111029
|
MAHASISWA
PRODI ILMU AQIDAH
FAKULTAS
USHULUDDIN DAN STUDI AGAMA
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI AR-RANIRY
DARUSSALAM
– BANDA ACEH
2014
A.
Pendahuluan
1.
Latar Belakang kegiatan
Mengawali setiap perbuatan dengan
niat yang penuh dengan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt. agar semua itu
dapat bernilai ibadah. Demikianlah pengarahan pertama yang disampaikan oleh
pimpinan rombongan kepada segenap mahasiswa yang akan mengikuti kegiatan
praktikum matakuliah ke Medan-Sumatera Utara pada tanggal 08 - 10 Mei 2014.
Kegiatan praktikum ini merupakan
suatu agenda perdana luar propinsi yang dilaksanakan oleh Fakultas Ushuluddin
dan Studi Agama UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Peserta yang diikut sertakan dalam
kegiatan ini merupakan perwakilan dari mahasiswa yang telah memenuhi segala
persyaratan pada saat penseleksian. Dimana proses seleksi tersebut diukur dari
indeks prestasi kumulatif tertinggi mahasiswa yang mendaftar dari masing-masing
prodi, yaitu Prodi Ilmu Aqidah, Perbandingan Agama dan prodi Ilmu Al-quran dan
Tafsir.
Masing-masing prodi yang ikut serta
dalam kegiatan praktikum ini tertuju pada tiga objek yang berbeda, yaitu disesuaikan
dengan ruang lingkup keilmuan prodi masing-masing. Praktikum Prodi Ilmu Aqidah terobjek
pada salah satu rumah ibadahnya kaum agama Buddha, yaitu di Indonesia Theravada
Buddhist Centre, Jalan Cemara Bulevard Utara Nomor 01 Cemara Asri-Sumatera
Utara. Berdasarkan hal tersebut, maka apa yang akan penulis paparkan dalam
laporan ini merupakan kumpulan data yang bersumber dari catatan-catatan kecil yang
telah dituliskan oleh para mahasiswa Prodi Ilmu Aqidah. Dimana mereka telah
turut melihat, mendengar, dan bertanya secara langsung kepada para pimpinan
ibadah agama tersebut.
2.
Tujuan Kegiatan
Kegiatan praktikum matakuliah ini
merupakan bagian akademik yang bertujuan untuk menjunjung tinggi Tri Darma perguruan
tinggi, memperluas wawasan keagamaan mahasiswa Ilmu Aqidah, menghargai perbedaan
berdasarkan pengetahuan yang diperoleh melalui pengamatan dan komunikasi
langsung dengan tokoh agama, serta dapat memicu motivasi mahasiswa dalam
belajar.
B.
Pembahasan
Berdasarkan
keterangan yang telah disampaikan oleh Bante Kemanando tentang agamanya kepada
segenap peserta praktikum matakuliah di Indonesia Theravada Buddhist Centre,
yaitu pada hari Jum’at, 08 Mei 2014, pukul 14:30 Wib. Maka dapat penulis
laporkan bahwa:
Indonesia
Theravada Buddhist Centre merupakan rumah ibadah kaum Agama Buddha yang berdiri
pada tahun 2009 yang dipimpin oleh Bante Kemanando. Paham ajaran Buddha yang
diterapkan oleh Bante Kemanando lebih berfokus pada keaslian ajaran Buddha itu
sendiri, artinya berupaya untuk mempertahankan keaslian ajaran yang tidak dapat
dicampuradukkan dengan budaya-budaya yang berlaku di lingkungan masyarakat
setempat. Contohnya ialah pakean yang digunakan oleh bante itu sendiri, yang
terdiri dari kain yang disambung-sambung, dan di lilit pada badan dengan
terbukanya bahu dan lengan tangan sebelah kanan. Adapun sebagai penganut agama
yang taat, bante-bante yang berpotensi untuk menjadi Buddha tidak dianjurkan untuk menikah.
Menurut
penjelasan Bante Kemanando, Buddha merupakan orang suci, orang yang sudah
hilang dari sifat-sifat yang tidak baik (kotor). Kemudian Buddha tersebut bukanlah
Tuhan, tetapi Ia hanya sebagai manusia biasa yang ingin mensucikan diri agar
bisa mencapai hakikat yang sempurna yaitu suatu hakikat yang sangat tinggi yang
bisa sampai kepada Tuhan (Sang Ilahi). Adapun patung yang mereka serupakan
dengan Buddha hanyalah sebagai simbol, dan bukan sebagai Tuhan. Tuhan yang
mereka yakini ialah sesuatu yang abstrak, tidak terlahir, tidak tercipta, dan
mutlak tidak terlihat dengan indra manusia.
Secara
lebih lanjut, Bante Kemanando menjelaskan juga bahwa dalam Agama Buddha,
manusia diharuskan juga untuk berdoa kepada Tuhannya serta berusaha dengan
sebaik-baiknya. Dan sebagai manusia, kita harus menjadi perangkai dari segala
bentuk keagamaan yang ada dalam masyarakat, seperti meta, yaitu sifat kasih dan solidaritas. Karuna, yaitu belas kasihan atau empati terhadap sesama
manusia. Simpati, yaitu menghilangkan rasa iri kepada orang lain, dan selalu
berpikir positif. Jika tiga rangkaian ini diterapkan, maka batin manusia
tersebut akan memperoleh keseimbangan.
Kemudian
dalam Agama Buddha juga ada proses meditasi, yaitu proses duduk
dan bernafas. Merenungi setiap helaan nafas yang masih bisa kita hirup, sadar
akan nikmat hidup yang masih dimiliki. Tujuan
meditasi ini adalah untuk melihat, memahami, menyadari apa yang ada di dalam
dan di luar diri manusia.
Meditasi
ini juga berfungsi untuk melatih pikiran agar senantiasa terarah pada pilihan
yang baik-baik dan dapat mengendalikan diri terhadap segala kondisi yang ada (sesuatu
yang keluar dari mulut). Melalui pengendalian ucapan inilah manusia dapat menunjukkan
empati hati atau ekspresi diri. Perbuatan pengendalian tersebut berupa tindakan
dimana tindakan akan menentukan kualitas diri seseorang untuk mencapai
kebahagiaan.
Di dalam
Agama Buddha, ada enam indra yang dapat digunakan untuk mengendalikan pikiran
dan perbuatan manusia, yaitu: telinga, mata, hidung, lidah, pikiran, dan kulit.
Keenam indra ini harus dibarengin dengan kesadaran. Dimana kesadaran tersebut
akan membantu manusia untuk mengendalikan segala sesuatu yang keluar dari dalam
dirinya. Segala sesuatu yang keluar tersebut diperlukan meditasi antara hati
dan pikiran. Hati dan pikiran manusia haruslah bekerjasama dan saling
menbutuhkan. Ketika hati dan pikiran sudah menyatu, maka itulah yang disebut
dengan batin. Jika apa yang ada di dalam pikiran belum tenang maka batinnya pun
tidak akan tenang. Sehingga ketenangan batin sangat dipengaruhi oleh ketenangan pikiran.
Dalam
Agama Buddha, simbol swastika merupakan jalan yang bermakna Duka,
yaitu kelahiran yang mengalami penderitaan atau sakit hati. Selama terdapat
kebahagiaan maka jangan lihat penderitaan itu sebagai penderitaan, akan tetapi
percayalah bahwa dibalik penderitaan terdapat kebahagiaan. Implementasi-nya
ialah dengan tiga cara, yaitu: senang saat memberi, senang sebelum memberi, dan
senang setelah memberi.
Agama Buddha memiliki beberapa tempat yang dianggap penting, yaitu Dhamayatra
merupakan tempat yang paling sakral, Sydarta merupakan tempat kesempurnaan, tempat
Buddha wafat, tempat kelahiran Buddha, tempat pembabatan, dan tempat kematian.
1.
Foto – Foto Kegiatan
Berdasarkan penjelasan tentang Agama
Buddha yang telah disampaikan oleh Bante Kemanando, maka turut penulis
lampirkan juga beberapa foto yang berkenaan dengan kegiatan tersebut.
![]() |
![]() |
Berfoto
bersama di depan Hotel Syariah
|
Berfoto
bersama di halaman Istana Maimun
|
![]() |
![]() |
Berfoto
bersama di depan Tugu
Indonesia
Theravada Buddist centre
|
Berdiskusi
dengan Bante Kemanando & Bapak Happy Saputra (ketua rombongan)
|
![]() |
![]() |
Salah satu
patung Buddha yang disucikan pada saat beribadah kepada Tuhan
|
Pemberian
cenderamata kepada Bante Kemanando oleh Ketua Rombongan
|
C.
Penutup
Banyak
pengetahuan baru yang terperoleh dari praktikum matakuliah ini. sehingga telah
banyak pula kesadaran dari para peserta untuk menghargai akan setiap perbedaan
yang ada dalam keyakinan-keyakinan beragama. Berdasarkan catatan yang telah
tersebutkan di dalam bagian pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa adanya
hubungan antara ajaran buddha yang disampaikan oleh Bante Kemanado dengan
ajaran tasawuf yang dikenal dalam ajaran Islam sebagai ilmu kebatinan ataupun
pengendalian hati. Persamaan yang telah disampaikan seperti cinta
kasih, belas kasihan tanpa batas, senang melihat orang senang, dan keseimbangan
batin. Kemudian ada juga disampaikna tentang mengendalikan apa-apa yang
dikeluarkan, yaitu perkataan ataupun perbuatan. Ketika ada orang yang berkata
kasar atau menyinggung perasaan kita, maka kita harus berusaha untuk mengendalikan
perkataan kita, dan membalasnya dengan perkataan yang baik.
Demikianlah hasil praktikum matakuliah di Indonesia
Theravada Buddhist Centre yang dapat penulis laporkan. Jika terdapat kekurangan
dan kesalahan maka penulis sangat mengharapkan adanya kritikan dan saran yang
membangun dari para pembaca. Semoga bermanfaat.
Sumber:
Hasil diskusi
langsung para peserta praktikum (mahasiswa Prodi Ilmu Aqidah) dengan Bante
Kemanando di Rumah Ibadah agamanya, yaitu Indonesia Theravada Buddhisme Centre,
Jalan Cemara Bulevard Utara No 1 Cemara Asri-Sumatera Utara. Pada hari Jum’at,
08 Mei 2014. Pukul 14:15 s/d 16.00 Wib.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar