Kamis, 29 Mei 2014

Laporan Praktikum Matakuliah
INDONESIA THERAVADA BUDDHIST CENTRE
OUR SERVICES ARE FOR ALL
Jalan Cemara Bulevard Utara No 1 Cemara Asri-Sumut

Diajukan Oleh:
1.      Aji Aksal
: 311102938
2.      Nazari Mahda
: 311102930
3.      Zulfian
: 311102957
4.      Agustiana
5.      Farnila
6.      Fitri
7.      Irma Suryani
: 311102948
: 311102937
: 311102931
: 311102949
8.      Maghfirah Nuryanti
9.      Marlina
10.  Melisa Meyna
: 311102966
: 311102937
: 311102954
11.  Nana Efriani
12.  Nurul Ilmi
: 311102951
: 311102934
13.  Rosi Manila
14.  Salmiaton
: 311102946
: 3111029

 

MAHASISWA PRODI ILMU AQIDAH
FAKULTAS USHULUDDIN DAN STUDI AGAMA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI AR-RANIRY
DARUSSALAM – BANDA ACEH
2014
A.    Pendahuluan
1.      Latar Belakang kegiatan
Mengawali setiap perbuatan dengan niat yang penuh dengan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt. agar semua itu dapat bernilai ibadah. Demikianlah pengarahan pertama yang disampaikan oleh pimpinan rombongan kepada segenap mahasiswa yang akan mengikuti kegiatan praktikum matakuliah ke Medan-Sumatera Utara pada tanggal 08 - 10 Mei 2014.
Kegiatan praktikum ini merupakan suatu agenda perdana luar propinsi yang dilaksanakan oleh Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Peserta yang diikut sertakan dalam kegiatan ini merupakan perwakilan dari mahasiswa yang telah memenuhi segala persyaratan pada saat penseleksian. Dimana proses seleksi tersebut diukur dari indeks prestasi kumulatif tertinggi mahasiswa yang mendaftar dari masing-masing prodi, yaitu Prodi Ilmu Aqidah, Perbandingan Agama dan prodi Ilmu Al-quran dan Tafsir.
Masing-masing prodi yang ikut serta dalam kegiatan praktikum ini tertuju pada tiga objek yang berbeda, yaitu disesuaikan dengan ruang lingkup keilmuan prodi masing-masing. Praktikum Prodi Ilmu Aqidah terobjek pada salah satu rumah ibadahnya kaum agama Buddha, yaitu di Indonesia Theravada Buddhist Centre, Jalan Cemara Bulevard Utara Nomor 01 Cemara Asri-Sumatera Utara. Berdasarkan hal tersebut, maka apa yang akan penulis paparkan dalam laporan ini merupakan kumpulan data yang bersumber dari catatan-catatan kecil yang telah dituliskan oleh para mahasiswa Prodi Ilmu Aqidah. Dimana mereka telah turut melihat, mendengar, dan bertanya secara langsung kepada para pimpinan ibadah agama tersebut.
2.      Tujuan Kegiatan
Kegiatan praktikum matakuliah ini merupakan bagian akademik yang bertujuan untuk menjunjung tinggi Tri Darma perguruan tinggi, memperluas wawasan keagamaan mahasiswa Ilmu Aqidah, menghargai perbedaan berdasarkan pengetahuan yang diperoleh melalui pengamatan dan komunikasi langsung dengan tokoh agama, serta dapat memicu motivasi mahasiswa dalam belajar.
B.     Pembahasan
Berdasarkan keterangan yang telah disampaikan oleh Bante Kemanando tentang agamanya kepada segenap peserta praktikum matakuliah di Indonesia Theravada Buddhist Centre, yaitu pada hari Jum’at, 08 Mei 2014, pukul 14:30 Wib. Maka dapat penulis laporkan bahwa:
Indonesia Theravada Buddhist Centre merupakan rumah ibadah kaum Agama Buddha yang berdiri pada tahun 2009 yang dipimpin oleh Bante Kemanando. Paham ajaran Buddha yang diterapkan oleh Bante Kemanando lebih berfokus pada keaslian ajaran Buddha itu sendiri, artinya berupaya untuk mempertahankan keaslian ajaran yang tidak dapat dicampuradukkan dengan budaya-budaya yang berlaku di lingkungan masyarakat setempat. Contohnya ialah pakean yang digunakan oleh bante itu sendiri, yang terdiri dari kain yang disambung-sambung, dan di lilit pada badan dengan terbukanya bahu dan lengan tangan sebelah kanan. Adapun sebagai penganut agama yang taat, bante-bante yang berpotensi untuk menjadi Buddha tidak dianjurkan untuk menikah. 
Menurut penjelasan Bante Kemanando, Buddha merupakan orang suci, orang yang sudah hilang dari sifat-sifat yang tidak baik (kotor). Kemudian Buddha tersebut bukanlah Tuhan, tetapi Ia hanya sebagai manusia biasa yang ingin mensucikan diri agar bisa mencapai hakikat yang sempurna yaitu suatu hakikat yang sangat tinggi yang bisa sampai kepada Tuhan (Sang Ilahi). Adapun patung yang mereka serupakan dengan Buddha hanyalah sebagai simbol, dan bukan sebagai Tuhan. Tuhan yang mereka yakini ialah sesuatu yang abstrak, tidak terlahir, tidak tercipta, dan mutlak tidak terlihat dengan indra manusia.
Secara lebih lanjut, Bante Kemanando menjelaskan juga bahwa dalam Agama Buddha, manusia diharuskan juga untuk berdoa kepada Tuhannya serta berusaha dengan sebaik-baiknya. Dan sebagai manusia, kita harus menjadi perangkai dari segala bentuk keagamaan yang ada dalam masyarakat, seperti meta, yaitu sifat kasih dan solidaritas. Karuna, yaitu belas kasihan atau empati terhadap sesama manusia. Simpati, yaitu menghilangkan rasa iri kepada orang lain, dan selalu berpikir positif. Jika tiga rangkaian ini diterapkan, maka batin manusia tersebut akan memperoleh keseimbangan.
Kemudian dalam Agama Buddha juga ada proses meditasi, yaitu proses duduk dan bernafas. Merenungi setiap helaan nafas yang masih bisa kita hirup, sadar akan nikmat hidup yang masih dimiliki. Tujuan meditasi ini adalah untuk melihat, memahami, menyadari apa yang ada di dalam dan di luar diri manusia.
Meditasi ini juga berfungsi untuk melatih pikiran agar senantiasa terarah pada pilihan yang baik-baik dan dapat mengendalikan diri terhadap segala kondisi yang ada (sesuatu yang keluar dari mulut). Melalui pengendalian ucapan inilah manusia dapat menunjukkan empati hati atau ekspresi diri. Perbuatan pengendalian tersebut berupa tindakan dimana tindakan akan menentukan kualitas diri seseorang untuk mencapai kebahagiaan.
Di dalam Agama Buddha, ada enam indra yang dapat digunakan untuk mengendalikan pikiran dan perbuatan manusia, yaitu: telinga, mata, hidung, lidah, pikiran, dan kulit. Keenam indra ini harus dibarengin dengan kesadaran. Dimana kesadaran tersebut akan membantu manusia untuk mengendalikan segala sesuatu yang keluar dari dalam dirinya. Segala sesuatu yang keluar tersebut diperlukan meditasi antara hati dan pikiran. Hati dan pikiran manusia haruslah bekerjasama dan saling menbutuhkan. Ketika hati dan pikiran sudah menyatu, maka itulah yang disebut dengan batin. Jika apa yang ada di dalam pikiran belum tenang maka batinnya pun tidak akan tenang. Sehingga ketenangan batin sangat dipengaruhi oleh ketenangan pikiran.
Dalam Agama Buddha, simbol swastika merupakan jalan yang bermakna Duka, yaitu kelahiran yang mengalami penderitaan atau sakit hati. Selama terdapat kebahagiaan maka jangan lihat penderitaan itu sebagai penderitaan, akan tetapi percayalah bahwa dibalik penderitaan terdapat kebahagiaan. Implementasi-nya ialah dengan tiga cara, yaitu: senang saat memberi, senang sebelum memberi, dan senang setelah memberi.
Agama Buddha memiliki beberapa tempat yang dianggap penting, yaitu Dhamayatra merupakan tempat yang paling sakral, Sydarta merupakan tempat kesempurnaan, tempat Buddha wafat, tempat kelahiran Buddha, tempat pembabatan, dan tempat kematian.

1.      Foto – Foto Kegiatan
Berdasarkan penjelasan tentang Agama Buddha yang telah disampaikan oleh Bante Kemanando, maka turut penulis lampirkan juga beberapa foto yang berkenaan dengan kegiatan tersebut.  
10253751_278424255670732_3330647089753890812_n.jpg
10300802_278425339003957_6934814881886346853_n.jpg
Berfoto bersama di depan Hotel Syariah
Berfoto bersama di halaman Istana Maimun
Trisna intan0502.jpg
Trisna intan0505.jpg
Berfoto bersama di depan Tugu
Indonesia Theravada Buddist centre
Berdiskusi dengan Bante Kemanando & Bapak Happy Saputra (ketua rombongan)
Trisna intan0514.jpg
Trisna intan0507.jpg
Salah satu patung Buddha yang disucikan pada saat beribadah kepada Tuhan
Pemberian cenderamata kepada Bante Kemanando oleh Ketua Rombongan


C.    Penutup
Banyak pengetahuan baru yang terperoleh dari praktikum matakuliah ini. sehingga telah banyak pula kesadaran dari para peserta untuk menghargai akan setiap perbedaan yang ada dalam keyakinan-keyakinan beragama. Berdasarkan catatan yang telah tersebutkan di dalam bagian pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa adanya hubungan antara ajaran buddha yang disampaikan oleh Bante Kemanado dengan ajaran tasawuf yang dikenal dalam ajaran Islam sebagai ilmu kebatinan ataupun pengendalian hati. Persamaan yang telah disampaikan seperti cinta kasih, belas kasihan tanpa batas, senang melihat orang senang, dan keseimbangan batin. Kemudian ada juga disampaikna tentang mengendalikan apa-apa yang dikeluarkan, yaitu perkataan ataupun perbuatan. Ketika ada orang yang berkata kasar atau menyinggung perasaan kita, maka kita harus berusaha untuk mengendalikan perkataan kita, dan membalasnya dengan perkataan yang baik.  
 Demikianlah hasil praktikum matakuliah di Indonesia Theravada Buddhist Centre yang dapat penulis laporkan. Jika terdapat kekurangan dan kesalahan maka penulis sangat mengharapkan adanya kritikan dan saran yang membangun dari para pembaca. Semoga bermanfaat.

Sumber:

Hasil diskusi langsung para peserta praktikum (mahasiswa Prodi Ilmu Aqidah) dengan Bante Kemanando di Rumah Ibadah agamanya, yaitu Indonesia Theravada Buddhisme Centre, Jalan Cemara Bulevard Utara No 1 Cemara Asri-Sumatera Utara. Pada hari Jum’at, 08 Mei 2014. Pukul 14:15 s/d 16.00 Wib.